Selasa pagi, 12:49, 7 Desember 2010. Malam ini seharusnya saya melanjutkan tulisan saya tentang Mekanisme Pembangunan Bersih Emisi Gas Karbon untuk tugas salah satu modul program Masters Research saya di universitas ini. Tetapi sayang, saya sedang kehilangan semangat untuk menulis tugas yang sebenarnya tinggal menghitung hari saja tengat waktunya. Untuk menghalau kejenuhan, saya membuka salah satu situs berita paling singkat dan mudah yang saya ingat. Tiba-tiba saja saya tertarik pada kolom olah raga tentang liga bola yang sedang ramai dibicarakan di negeri Pangeran William ini. Aneh untuk saya, tapi mungkin juga tidak terlalu aneh karena euforia memperhatikan informasi bola saya dapatkan dari hasil kunjungan ke Stadium Emirates di London, yang menurut teman saya adalah kandang tim Arsenal - the Gunners. Sepanjang hidup, saya sebetulnya tidak pernah terpikir untuk mengunjungi salah satu stadion olah raga besar di salah satu negara secara khusus. Satu, karena saya tidak suka olah raga. Dua, saya tidak suka bola. Alasan saya menjadi sangat aneh karena lagi-lagi saya menyempatkan diri mengunjungi Stadium Anfield di Liverpool, kandang tim sepak bola Liverpool. Mungkin saya juga akan menyempatkan diri mengunjungi kandang tim Manchester United yang di Indonesia sering menjadi topik pembicaraan hangat. Sudah tiga bulan saya di negeri ini. Negeri aristokrat monarki yang entah mengapa, saya pilih untuk mejadi tempat saya belajar ilmu baru. Beragam perasaan saya rasakan selama tiga bulan ini, dari mulai sedih, gembira, lucu, haru-biru, khawatir ekstra dan super ekstra, dll. Saya juga bertemu teman-teman baru dengan beragam karakter dan keunikan masing-masing. Keriaan bersama teman sahabat baru sering mengisi rasa kosong dan jenuh yang datang berkunjung tanpa sebab alasan yang jelas. Sudah tiga bulan, saya masih berkutat membedakan tugas jenis essay, tinjauan kritis, mengomentari artikel, dll. Ah ada-ada saja! Itu yang sering terlintas di benak saya. Lebih parah lagi, saya sering merasa jauh dari pandai saat harus mempelajari satu modul tentang analisa ilmu sosial dan pembangunan internasional. Haiyah dari judulnya saja buat saya seperti mengunyah gula kapas, seperti manis tapi tidak mengenyangkan. Sudah tiga bulan, saya membiarkan pikiran dan perasaan saya melayang dan memandang kenyataan yang terhampar di hadapan saya tanpa bertanya. Hanya membiarkan saja. Usaha saya untuk belajar atau membaca pun tidak pernah saya paksakan. Tapi jika dibandingkan dengan saat saya belajar di masa lalu, tetap saya rasa saat ini saya belajar jauh lebih keras. Entah mengapa… Minggu ini, satu tugas menulis harus saya selesaikan. Kerangkanya sudah saya siapkan, tetapi memang… menulis buat saya merupakan pekerjaan yang selalu sulit. Terkadang saya merasa sudah mempunyai kerangka tulisan yang jelas, tetapi saat jari-jemari saya menyentuh tombol-tombol komputer ini semua ide tiba-tiba hangus, raib, lenyap. Hari ini saya sudah berjanji dalam hati untuk menyelesaikan tugas ini setidaknya draft kasar 3000 kata.

Dec 7 -
Menulis

Meta: